Search

Kala The Fed dan Perang Dagang AS-China Buat Galau nan Bimbang

Kala The Fed dan Perang Dagang AS-China Buat Galau nan Bimbang

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak terbatas sepanjang perdagangan kemarin (29/10/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga obligasi pemerintah menguat tipis, sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stagnan.

Kemarin, sejatinya IHSG lebih banyak bersemayam di zona merah. Akan tetapi menjelang penutupan perdagangan, bursa saham acuan Ibu Pertiwi sprint dan akhirnya berhasil ditutup menguat 0,25% ke level 6.281,14 indeks poin. Ini berarti, sudah 3 hari beruntun IHSG mencatatkan reli.


Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam mendongkrak kinerja IHSG di antaranya: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (+1,64%), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (+1,43%), PT Astra International Tbk/ASII (+1,09%), PT Maha Properti Indonesia Tbk/MPRO (+19,59%), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk/INKP (+4,84%).
Kemudian, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun cenderung stagnan dengan hanya turun tipis 0,9 basis poin (bps). Meskipun yield hanya terkoreksi tipis setidaknya ini masih menandakan harga obligasi sedang naik karena tingginya permintaan.

Sementara itu, kala penutupan pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp 14.020, sama persis degan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Padahal mata uang utama Benua Kuning cenderung menguat di hadapan dolar AS.

Hanya dolar Hong Kong, rupee India, dan dolar Singapura masih masih tertinggal di zona merah. Sedangkan yang menguat adalah yuan China, yen Jepang, won Korea Selatan ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, dan dolar Taiwan.

Pasar keuangan Indonesia bergerak terbatas karena digentayangi aksi ambil untung alias profit taking.

Dari pasar saham, IHSG sudah membukukan apresiasi yang signifikan. Sepanjang bulan Oktober (hingga penutupan perdagangan kemarin), IHSG sudah membukukan penguatan sebesar 1,56% (dihitung dari akhir September). Oleh karena itu, wajar jika pelaku pasar ingin merealisasikan keuntungannya.

Sedangkan rupiah galau karena menanti rilis data penting, yakni laju inflasi bulan Oktober di akhir pekan ini. Konsensus sementara yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi bulan ini sebesar 3,27% year-on-year (YoY), melambat dibandingkan September yaitu 3,39%.

Di lain pihak, pasar keuangan Indonesia masih mampu membukukan penguatan karena hubungan dagang AS dan China yang kian mesra.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan kesepakatan damai dagang fase I bisa selesai lebih cepat dari perkiraan. Awalnya, kesepakatan tersebut direncanakan rampung pada pertengahan November, bersamaan dengan KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Chile.

"Kami melihat ada kemungkinan (kesepakatan damai dagang fase I) lebih cepat dari jadwal. Akan ada sebuah kesepakatan yang sangat besar, tetapi kami menyebutnya fase I," ungkap Trump kepada wartawan sebelum kunjungan kerja ke Chicago, seperti diberitakan Reuters.

Menurut Trump, kesepakatan fase I tersebut akan sangat menguntungkan para petani AS. Tidak hanya itu, kebutuhan perbankan juga diperhatikan. "Saya bisa katakan kesepakatan ini akan sedikit lebih cepat dari jadwal, atau malah jauh lebih cepat," ujarnya.

Damai dagang memang sangat didamba oleh pelaku pasar global dengan harapan bahwa tercapainya kesepakatan akan membuat arus perdagangan dan investasi bersemi kembali. Roda pertumbuhan ekonomi pun bakal lebih baik.

(BERLANJUT KE HALAMAN DUA) (dwa/dwa)

Halaman Selanjutnya >>>>




Bagikan Berita Ini

0 Response to "Kala The Fed dan Perang Dagang AS-China Buat Galau nan Bimbang"

Post a Comment

Powered by Blogger.