Search

The Fed Pangkas Suku Bunga, Akankah Mata Uang Garuda Bangkit?

The Fed Pangkas Suku Bunga, Akankah Mata Uang Garuda Bangkit?

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup bervariatif dengan rentang terbatas pada perdagangan kemarin (30/10/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terkoreksi tipis dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi-lagi berakhir di zona hijau. Sedangkan harga obligasi pemerintah ditutup stagnan

Bursa saham utama Ibu Pertiwi yang pada pertengahan perdagangan sesi II sempat terkoreksi 0,26%, tiba-tiba sekitar 10 menit menjelang penutupan melesat naik dan akhirnya ditutup menguat 0,23% menjadi 6.295,75 poin. Ini menjadi ketiga kalinya, IHSG seperti diselamatkan di menit-menit terakhir.


Lalu Mata Uang Garuda tercatat melemah tipis hampir flat di 0,01%, di mana US$ 1 setara dengan Rp 14.022 kala penutupan pasar spot. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun sama seperti perdagangan hari sebelumnya, yakni ada di level 7.033%.
Pergerakan variatif pasar keuangan Indonesia mayoritas dipengaruhi oleh sentimen global yang campur aduk.

Yang pertama adalah terkait friksi dagang AS dan China yang dikabarkan tidak dapat menandatangani kesepakatan fase pertama saat pemimpin kedua negara bertemu di gelaran KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) bulan depan di Chile.

Salah seorang pejabat Gedung Putih menyampaikan bahwa penundaan tersebut disebabkan teks perjanjian belum dapat selesai sesuai jadwal.

Besar kemungkinan, penundaan ini juga berkaitan dengan pihak Negeri Tiongkok yang belum memenuhi janjinya untuk membeli produk pertanian asal Negeri Paman Sam dengan nilai maksimum sebesar US$ 50 miliar. Jumlah ini sekitar dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan total pembelian tahunan sebelum perseteruan dagang kedua negara dimulai.

"China tidak mau membeli barang dalam jumlah besar, yang ternyata tidak dibutuhkan oleh orang-orang di sini. Atau harus membeli barang saat tidak ada permintaan," tegas salah seorang pejabat di perusahaan milik negara di China, seperti diwartakan Reuters.

Jika produk pertanian AS masuk dalam jumlah besar ke pasar China, lanjut sang pejabat, maka pasar domestik akan kesulitan untuk menyerap. Hasilnya adalah keseimbangan antara penawaran dan permintaan akan rusak.

Apabila Beijing enggan membeli produk pertanian dalam jumlah banyak, maka Presiden AS Donald Trump sangat mungkin bakal ngambek dan ini dapat berujung pada pembatalan kesepakatan damai dagang.

Di lain pihak, kabar baik datang dari Eropa, tepatnya Prancis. Negeri pusat mode dunia tersebut membukukan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 di level 0,3% secara kuartalan. Lebih baik ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Trading Economics yaitu 0,2%.


Prancis adalah perekonomian terbesar kedua di Benua Biru. Kala ekonomi Prancis masih kuat, maka ada harapan Eropa bisa melalui masa-masa berat dan menghindari resesi.

Kemudian, indeks kepercayaan manufaktur di Italia pada Oktober berada di angka 99,6. Lebih baik ketimbang bulan sebelumnya yaitu 99 dan di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan sebesar 98,5.

Angin segar dari Eropa sepertinya mampu sedikit menutup kekhawatiran pasar terhadap perkembangan relasi AS-China.

[Gambas:Video CNBC]

Halaman Selanjutnya >>>>




Bagikan Berita Ini

0 Response to "The Fed Pangkas Suku Bunga, Akankah Mata Uang Garuda Bangkit?"

Post a Comment

Powered by Blogger.