Search

Pasar Diwarnai Sentimen Positif, Obligasi RI Kok Koreksi?

Pasar Diwarnai Sentimen Positif, Obligasi RI Kok Koreksi?

Jakarta, CNBC Indonesia -Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi tipis pada sesi awal perdagangan hari ini padahal sentimen pasar keuangan dunia sedang positif di tengah meredanya kecemasan terkait ancaman non-deal Brexit dan perang dagang Amerika Serikat (AS)-China.Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu seiring koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.

Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0068 yang bertenor 15 tahun dengan kenaikan yield 1,5 basis poin (bps) menjadi 7,78%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Yield Obligasi Negara Acuan 30 Aug'19

Seri

Jatuh tempo

Yield 29 Aug'19 (%)

Yield 30 Aug'19 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar IBPA 29 Aug'19 (%)

FR0077

5 tahun

6.789

6.779

-1.00

6.7874

FR0078

10 tahun

7.349

7.361

1.20

7.3526

FR0068

15 tahun

7.766

7.781

1.50

7.7692

FR0079

20 tahun

7.894

7.901

0.70

7.8738

Avg movement

0.60

Sumber: Refinitiv

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 584 bps, melebar dari posisi kemarin 583 bps. Yield US Treasury 10 tahun naik 0,2 bps hingga 1,518% dari posisi kemarin 1,516%.


Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi seluruh pasang seri acuan, yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.

Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada tenor 2 tahun-10 tahun yang bertahan pekan ini, sebagai indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain.

Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

Yield US Treasury Acuan 30 Aug'19

Seri

Benchmark

Yield 29 Aug'19 (%)

Yield 30 Aug'19 (%)

Selisih (Inversi)

Satuan Inversi

UST BILL 2019

3 Bulan

1.992

1.995

3 bulan-5 tahun

57.4

UST 2020

2 Tahun

1.53

1.544

2 tahun-5 tahun

12.3

UST 2021

3 Tahun

1.454

1.462

3 tahun-5 tahun

4.1

UST 2023

5 Tahun

1.411

1.421

3 bulan-10 tahun

47.3

UST 2028

10 Tahun

1.517

1.522

2 tahun-10 tahun

2.2

Sumber: Refinitiv

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.008,98 triliun SBN, atau 38,67% dari total beredar Rp 2.609,42 triliun berdasarkan data per awal pekan ini (26/8/19).

Angka kepemilikannya masih positif Rp 115,73 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat masuk ke pasar SUN senilai Rp 900 miliar.

Koreksi di pasar surat utang hari ini tidak seperti penguatan yang terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya naik 0,41% menjadi 6.314 untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan 0,11% menjadi Rp 14.220 per dolar AS untuk rupiah.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, koreksi harga dan kenaikan yield terjadi secara luas. Koreksi harga tersebut mencerminkan investor global sedang menghindari obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen positif.

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 29 Aug'19 (%)

Yield 30 Aug'19 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil

7.59

7.54

-5.00

China

3.049

3.074

2.50

Jerman

-0.693

-0.695

-0.20

Prancis

-0.415

-0.414

0.10

Inggris

0.438

0.433

-0.50

India

6.542

6.564

2.20

Jepang

-0.287

-0.272

1.50

Malaysia

3.31

3.316

0.60

Filipina

4.373

4.385

1.20

Rusia

7.19

7.17

-2.00

Singapura

1.702

1.718

1.60

Thailand

1.45

1.46

1.00

Amerika Serikat

1.516

1.518

0.20

Afrika Selatan

8.175

8.195

2.00

Sumber: Refinitiv
 

TIM RISET CNBC INDONESIA

(irv)

Halaman Selanjutnya >>>>




Bagikan Berita Ini

0 Response to "Pasar Diwarnai Sentimen Positif, Obligasi RI Kok Koreksi?"

Post a Comment

Powered by Blogger.